~Beach Party!~
[ Part 2 ]
--
=oOo=
--
Kesunyian pantai terpecah oleh teriakan dan tawa yang menggelegar dari
segerombol perempuan muda, atau, remaja, atau, remaja yang dewasa sebelum waktunya.
Mereka dengan riang nya berlarian menuju pantai, lalu memilih tempat teduh
dibawah pohon kelapa untuk bersantai. Empat karpet berukuran sedang pun mereka
gelar disana, sambil melihat pemandangan yang asri mereka bersendagurau.
“Baru kali ini gue ke pantai..” kata Nadya, sambil bermain pasir.
“Hah? Serius lo?” saut yang lain.
“Nih, nih, bawa pulang buat emak dirumah.”
Nancy menaruh segenggam pasir ditangan Nadya, lalu mereka semua tertawa.
Di sela canda mereka, Dian melihat sebuah objek ditengah laut.
gak ditengah banget sih, agak kepinggir
sedikit.
Sebuah bayangan, yang setelah diamati lebih lama adalah dua orang yang
sedang berhadapan. Karena terlalu silau, Dian tidak dapat melihat wajah mereka.
Tetapi, figure tubuh nya jelas menunjukan kalau bayangan itu adalah dua
orang laki-laki.
Insting Fujoshi nya yang
tergelitik membuat Dian senyum-senyum sendiri, sambil berpikir ‘wah, ada something nih’, ia terus menatap dua
orang itu.
“WOOYY!!!!” teriak teman-teman nya
yang lain, dan tak lupa dorongan dari Jiru yang cukup keras hingga membuat Dian
tersungkur mencium pasir. Dengan mesra
nya.
“Apasih?!” teriak Dian.
“Lo yang ngapain, senyum-senyum sendiri, bagi-bagi dong!” kata Ichan,
menggoda.
“Kesurupan loh.” Timpal Nancy.
“ngeliatin apaan sih?” kata Nee.
Dian terdiam sejenak, sambil mengelus bahunya yang didorong tadi.
“Tuh, liat deh ditengah, ada orang..” Katanya.
“Manamanamanamana?” mereka sangat
excited, sampai lupa ngomong pakai
spasi.
“Itu.” Dian menunjuk kearah dua orang itu.
“Dimana?”
“Itu disitu tuh..”
“Mana sih?!” kata Linda yang mulai emosi.
“Disebelah mana?” Nadya makin penasaran.
“Itu tuuuuhhhh!” Dian ikut emosi.
“... kacamata gue dikamar...” gerutu
Nancy.
Nee mengangkat kepalanya, “Oh itu..”
“MANAA?!!” teriak yang lain.
“Itu tuh disitu.” Nee menunjuk kesatu arah.
“HAAH??” yang lain melihat kearah
tempat yang di tunjuk Nee.
“.... itu bukannya batu karang?”
“..... kok batu karang?”
“BUKAN YANG ITUUU!!” Dian berteriak dengan kesal, lalu berdiri sambil
menunjuk kearah dua orang tadi. “TUUH! YANG ITUU!! BUKAN BATU KARAAAANNGG—“
Karena teriakan nya yang keras, dua orang itu menengok kearah mereka.
Merasa dibicarakan, mereka kemudian keluar dari air, dan meninggalkan pantai
begitu saja.
“Eh...” Dian cengok.
“Hayo looohhh~~~~~” teman-temannya menggoda dari belakang.
“Hayo loh Dian~” goda Jiru.
“Eh?! Ini gara-gara kalain tau!” Dian terduduk dengan lemas.
“Ahahaha~” yang lain tertawa.
“Eh, tapi, cowok-cowok itu dipantai sepi begini, ngapain yak?” tanya Ichan.
“LOL, ambigay sekali mereka~” jawab Nancy.
“Yaudalah~ eh! Renang yuk!” Linda mengajak teman-teman nya.
“Ayookk~~~”
Dengan perasaan suka cita, mereka kembali menikmati suasana pantai dan
dinginnya air laut. Jiru dan Nancy menjaga tas di pinggir pantai, sambil
mengambil foto pemandangan dan teman-temannya yang sedang asik bermain air.
Satu, dua, tiga, jam berlalu. Matahari sudah tenggelam, mereka bertujuh
kembali ke hotel dan bersiap-siap untuk makan malam. Di hotel ini, makan malam
disiapkan dipinggir pantai. Jadi, setiap pengunjung dapat menikmati hidangan
sambil merasakan hembusan angin malam dan suara gemuruh ombak yang menenangkan
hati.
Sementara itu, dikamar.
“Kak, dinner nya jam berapa,
sih?” Tanya Nadya ke Nancy yang sedang sibuk dengan laptopnya.
“Hn? Setengah jam lagi.”
“Dih, masih lam—“
“KYAAAHH KYAAAAHHH LIAT DEH LIAAAT~~ KYAAAAH ITU ANIME ITUUU KYAAAHH~~”
Fangirl kalap yang dengan barbar nya
berteriak di depan TV, sungguh pemandangan yang tidak enak dilihat, dan dicontoh
oleh anak-anak yang masih perlu
bimbingan orang tua.
“Guys, shut up..” kata Nancy, jengkel.
“KYAAAHH KYAAAH KYAAAAH O EM JI SEXY BANGET!!”
Daaan~ dia dicuekin. Salah sendiri, siapa
suruh ngomong sama fangirl barbar yang
adrenalin nya lagi meledak-ledak. Mereka
aja lupa kalo dirumah beras tinggal dua butir.
“Sigh...” Nancy berpindah posisi ketempat yang lebih jauh, ia memilih duduk disamping jendela besar yang
menghadap ke pantai.
Ia memang sedang membutuhkan konsentrasi penuh untuk
pekerjaan nya. Yaa, bisa disebut pekerjaan. Karena, ia memang hanya melakukan
ini sehari-hari. Menulis cerita porno, lalu mempublishnya di blog pribadinya. Suasana dipinggir pantai harusnya
membuat dia lebih terinspirasi.
tapi... kalau begini caranya...
Nancy memutuskan untuk masuk kedunianya sendiri
dengan bantuan headset. Volume
tertinggi dinyalakan, dan lagu-lagu ADAMS mulai bermain dikepalanya.
Teman-temannya yang lain masih asik menonton TV,
dengan berapi-api mereka memenuhi kamar itu dengan teriakan ala fangirl.
“Hmm...”
Tanpa terasa, menit demi menit berlalu. Sudah satu
halaman Ms. Word terisi penuh dengan limpahan kata-kata kotor hasil dari kerja
otak Nancy.
Bagaikan menulis dosanya sendiri.
Perlahan hentakkan jarinya diatas keyboard melambat,
dia stuck. Seakan-akan adegan porno
yang bermain diotak nya sedang buffer,
Nancy pun terhenti.
Kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah, bola
matanya berputar. Berharap kalau ada sesuatu yang bisa membuat otak mesum nya
bekerja kembali. Karena tidak ada yang terjadi, tatapan nya pun kembali ke
layar laptop, dan terpaku pada cursor yang timbul-tenggelam diujung kalimatnya.
Namun,
tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak diluar, dengan instan, Nancy melirik
kesana. Tepat dipinggir pantai, ada seseorang yang berdiri sendirian. Diam,
menatap laut. Dan membiarkan ujung jari-jari kakinya terhempas ombak.
Nancy membenarkan posisi kacamatanya, “Wah... itu orang apa setan?” batinnya, “Apa
setan pura-pura jadi orang? Atau... orang yang cosplay jadi setan?”
Jalan pikir Nancy : Absurd total.
Ia tetap menatap orang itu dari balik jendela,
tiba-tiba kejadian tadi siang membuat nya penasaran.
"Jangan-jangan...
itu cowok yang diliat Dian?”
Ket : pada siang hari tadi, Nancy tidak melihat dua orang yang ditunjuk Dian
dengan jelas, karena ia tidak menggunakan kacamata. Sigh, apa-apaan itu.
“Guys... liat kesini deh..” katanya, tanpa melepas
pandangan nya dari orang itu.
Daaan~ tidak ada respon, teman-temannya terlalu
sibuk menikmati surga dunia dilayar kaca.
“Woy! Woooyyy~!!”
Nancy melempar sepatu kearah teman-teman nya, dan tidak ada respon. Kaos
kaki basah juga ia lempar, namun masih belum mendapatkan perlawanan yang
berarti. “Ih ampun ya..” ia menyerah, lalu kembali melirik kepantai. Namun,
objek yang dilihatnya tadi MENGHILANG.
Tidak ada jejak dipasir, atau bekas ditempat orang
itu berdiri tadi. Laut juga masih tenang seperti sebelumnya. Sekelebat
prasangka kemudian muncul dibenaknya.
“.... Anjir, gue ngeliat setan...”
Beach Party! (Part 2) --END!!
-------------------------------------------------------
Nyaaa~ this is part 2!
I dunno how many parts this story will take, I just go with the flow~ (~ =w=)~
Soo~ how's that? :3
as you can see, Comedy isn't my good point ^^"
I keep mixing every story with horror/violence touch, just like Forever Sweet Chocolate, ehh ^^"
and I'm really really sorry for that, u,u /bow
but, I'm glad there's still good people who looking forward to my stories, even tho this isn't even satisfying~ I love you guys so much ;w;
No comments:
Post a Comment